Bukit Bintang, Ngargoyoso, 2015.
Berhubung hari ini (8/6/20) trending di twitter berkaitan dengan salah satu kota yang di waktu saya kuliah selalu menjadi tempat favorite untuk bertamasya, maka hari ini saya mau nostalgia tentang kota itu: Tawang Mangu. Tawang Mangu merupakan salah satu kota di daerah Karang Anyar, kurang lebih 2 jam perjalanan dari kota Solo.


Kota yang ada di kaki gunung lawu ini sangat terkenal dikalangan mahasiswa kota Solo karena banyaknya air terjun, kebun teh, vila, ataupun gunung lawu yang bisa ditanjaki saat akhir pekan datang. Rada aneh sebenarnya melihat kota ini menjadi trending di twitter, sama anehnya saat kecamatan rumah saya di desa pernah menjadi trending di twitter saat masa-masa pemilu tahun 2019 kemarin, yak benar Juwangi pernah menjadi trending! Meski begitu saya pengen saja menulis kisah masa lalu saya saat masih senang-senangnya berakhir pekan di Tawang Mangu.

Saya kangen sekali dengan Tawang Mangu akhir-akhir ini, tempat penuh kenangan masa-masa kuliah dulu. Setiap ada training komunitas pasti kita menginap disana 3h2m atau 2h1m.. gratis. Paling berkesan lagi saat saya harus mendaki bukit-bukit demi menemui pos-pos yang sudah diatur oleh panitia training tersebut dengan tangan-kaki saya penuh dengan pacet. Iya pacet, kita tidak tahu kenapa bisa ada pacet disepanjang rute tersebut karena sebelum-sebelumnya tidak pernah ada masalah dengan makhluk ini. Geli dan jijik rasanya saat melihat ada pacet disela-sela jari tangan maupun kaki, atau tanpa diketahui ternyata ada pacet yang sudah menggemuk disalah satu bagian tubuh kita yang untuk menyingkirkannya pun kelewat perih karena kita bisa melihat lubang hisapnya.


Kegiatan di Villa Tawang Mangu bersama Himatansi, 2009.
Paling berkesan lainnya ialah saat komunitas yang menjadi favorite saya mengadakan pelatihan di Ngargoyoso Tawang mangu. Kami mengadakan permainan yang harus berkelompok berganti-gantian dan harus duduk disetiap kaki dengan membaris ke belakang, jika salah satu jatuh maka yang lainpun akan jatuh. Lokasi Homestay yang kita pilihpun lumayan jauh dari kota Tawang Mangu sendiri, lebih ke arah perkampungan diatas bukit yang sangat dekat dengan air mancur dan bumi perkemahan yang tak terlalu ramai. Saat malam hari, pemandangan lampu kemerlap di Kota Karanganyar dan Solo terlihat jelas dari sini yang otomatis mampu menghangatkan tubuh kita semua dari hawa dingin pegunungan di saat malam datang disana.

Saat pagi datang, kami berjalan bersama mengelilingi perkampungan dan area perbukitan yang pemandangannya mengarah ke arah Kota dan Kebun Teh, masih dengan hawa dingin yang mengercap tubuh kami. Salah satu teman kami sempat mengeluarkan candaan yang cukup membuat kami semua tertawa, “Pantes orang sini anaknya banyak ya, wong dinginnya kayak gini, enaknya banget buat pelukan” hahaha. Ya itu terjemahannya dari bahasa Jawa Ngoko yang sebenernya kita pakai saat itu.


Game-game yang kita mainkan dan perjalanan mengelilingi Ngargoyoso, 2011.
Ada lagi saat saya dan teman wanita saya yang rela motoran Pulang Pergi (PP) dalam sehari ke area Candi Ceto. Melewati persawahan lalu perkebunan teh naik terus hingga kami harus menanjak hampir 70 derajat untuk sampai di parkiran Candi. Kami cukup terkesan dengan kabut yang pelan-pelan turun di area Candi tersebut, ditambah dengan suasana saat-saat matahari terbenam yang terlihat dari sela Gerbang Pura Candi. Sampai saat ini, saat-saat itu masih saat-saat yang magis dalam penglihatan saya, sangat indah. Lalu saat akan pulang, kita harus lebih hati-hati mengendarai motor karena turunan yang sangat tajam ada didepan mata, ingat hampir 70 derajat saat nanjak tadi? Nah ini kita harus turun melalui tanjakan itu tadi, mlorot mlorot dah pantat kami berdua, apalagi saat itu sudah gelap. Ya, dalam dunia berkendara, menanjak memang lebih mudah daripada saat turun.
Sunset di Candi Ceto, 2012.
Yang terakhir adalah saat saya dan teman saya yang lain sengaja datang ke area Cemoro Kandang untuk sekedar motoran dan merasakan Sate Kelinci untuk pertama kalinya. Lucunya, kami saat itu cukup senang hanya dengan foto-foto diantara bunga-bunga yang ternyata adalah bunga Kembang Kol haha. Ya hampir mirip dengan kembang kol, tapi dia bukan kembang kol kok. Saya ga tau juga nama aslinya apaan haha.

Cemoro Kandang bersama Sherly
Di Tawang Mangu juga pertama kalinya saya naik gunung di tahun 2011. Saya naik gunung di Gunung Lawu via Cemoro Sewu saat itu, bersama 3 teman lainnya. Lucunya, kami berempat belum ada yang berpengalaman naik gunung. Kalau dipikir-pikir lucu juga kami saat itu, tidak membawa bekal apapun kecuali air minum 1 Literan per orang 2 botol, sedikit gula jawa, dan roti sobek yang semuanya kami beli di Mini Market dekat dari Pasar Tawang Mangu. Kamipun hanya membawa Sleeping Bag dan Matras tanpa membawa Tenda.

Tapi kami sudah mengantongi informasi kalau di Gunung Lawu tanpa membawa tenda-pun ada warung yang menyediakan shelter disana (dengan memberi uang seikhlasnya). Sampai disanapun kami cukup takjub dengan pemandangan yang baru pertama kali itu kami temui, sangat indah dan tidak seramai sekarang. Karena sampai di shelter sudah di jam 8 malam, maka kamipun memutuskan untuk membeli mie rebus dan teh anget ke ibu warung. Saat tidur kami menggigil sampai gigi teman saya bergelatakan haha. Saat pagi datang, kami langsung naik kepuncak dan melihat matahari terbit disana. Kamipun melihat gumpalan awan dibawah kami yang terlihat sangat lezat untuk ditiduri, kalau tidak sadar bisa kesirep dan meluncur kesana saya lol.

Masih menggigil kami tetap foto-foto diatas sana, lalu turun rada kebawah dan kami berempat duduk di savana sambil mendengar teman kami menelepon ibunya. Kami cukup terbahak saat mendengar ibunya bertanya naik apa ke puncak lawu ke teman kami yang dijawab “Ya jalan kaki, masak naik motor” Haha. Setelahnya kami pulang ke Solo dan mendapati helm teman saya hilang saat kami sedang makan siang dikawasan kampus. Ckckck, ending yang memilukan bagi teman saya. Setelahnya total 3 kali saya naik ke Gunung Lawu dan sampai sekarang Gunung Lawu masih menjadi gunung terfavorite saya untuk di daki.

Saat mendaki ini kami juga berkenalan dengan 4 orang yang datang dari UGM Jogja. Mereka sudah berpengalaman mendaki kesana kemari dan mereka membantu kami menghidupkan suasana saat pendakian dari pos 3 sampai pos 4. Esok paginya pun kami masih bertemu lagi di puncak yang tidak kami nyana merekapun menunggu kami disana "Eh akhirnya pada sampai juga." kata salah satu dari grub mereka. Mereka malah mengajak kami berfoto bersama juga disana, dan sampai sekarang kami masih saling mengikuti akun masing-masing di Instagram. Ya setidaknya saya dan mbak Igib.

Puncak Gunung Lawu, 3 orang di belakang kami yang sangat baik, 2011.
Masih banyak cerita di Tawang Mangu yang tak bisa saya ceritakan semuanya disini, dari yang saya kemping di Ngargoyoso lagi tahun 2015 kemarin, perjalanan ke Sekipan, serta perjalanan-perjalanan lain yang terlalu banyak karena saking seringnya kesini saat jaman kuliah dulu. Jika ada kesempatan mungkin lain waktu saya akan bercerita kembali tentang cerita yang tak tertulis dicerita ini itu.

Tawang Mangu dan semua tempat disekelilingnya memang pantas untuk dijadikan trending topik. Suasana dan hawa dinginnya akan selalu membuat kita ingin kembali. Apalagi banyak cerita yang saya tematkan ditempat itu. Saya berharap suatu saat dapat kembali kesana dan membuat cerita lagi yang tentunya tidak akan pernah saya lupakan. 


Ngargoyoso Kemuning Tawang Mangu, 2015.


No comments:

Post a Comment