Sepeda dimana-mana, Haarlem Netherlands, 08 Mei 2018.
Malam sebelumnya teman mencari informasi lokasi The Body Shop terdekat untuk membeli suatu barang. Setelah lokasi dari maps sudah kami kantongi, pagi harinya kami bersiap untuk ke lokasi tersebut. Itu merupakan hari pertama kami untuk mengunjungi pusat Amsterdam diwaktu siang. Dan juga merupakan hari terakhir kami di Belanda karena selanjutnya kami harus melanjutkan perjalanan ke negara Belgia.

Pagi itu saya bangun lebih awal dan lanjut mempersiapkan diri untuk berjalan-jalan di area Amsterdam nantinya. Saya kemudian berkeliling di area hotel sambil menunggu teman yang masih bersiap-siap di dalam kamar. Lokasi hotel kami memang cukup menyenangkan karena berada disisi taman Oosterpark Amsterdam. Keluar hotel saya langsung melihat indahnya pepohonan hijau dan sungai kecil yang mengalir dengan angsa-angsa putihnya disana. Suara-suara burung yang berkicau, orang-orang yang mengayuh sepedanya, serta sampah botol-botol beer dikiri-kanan tempat sampah menjadi pemandangan saya saat melangkah keluar dari pintu hostel itu.

Saya kemudian memutar ke arah jalanan Mauritskade, melihat parkiran sepeda serta mobil menggunakan mesin parkir yang masih terlihat mengesankan bagi saya, lalu pulang kembali ke area lobby hostel. Di lobby saya melihat teman sekamar kami, namanya Morouj, keturunan Saudi Arabia yang sekarang tinggal di Toronto Kanada. Morouj saat itu juga harus meninggalkan Belanda untuk kembali ke Kanada setelah beberapa minggu berada di Amsterdam. Kamipun disana bercakap-cakap sampai pukul 10.00 waktu kami harus check-out datang.

Saya langsung masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil koper saya serta menjemput teman yang masih disana. Beberapa saat kemudian kami menuju ke resepsionis dan melakukan check-out lanjut ke area locker room untuk storing koper-koper kami. Morouj masih menunggu kami dan berjalan ke arah halte bus bersamaan, iya saat itu kami bertiga sama-sama menuju ke arah Amsterdam Centrum.

Setelah berpelukan dan berharap akan bertemu lagi nantinya, saya dan teman harus turun di satu halte sebelum Amsterdam Centrum tempat tujuan Morouj berhenti. Bukannya langsung ke The Body Shop, kami malah kalap dan masuk ke area Primark di dekat halte. Banyak baju-baju murah dijual disana, serta barang-barang lain yang mengharuskan kami untuk berjalan-jalan sampai kelantai atasnya. Lucunya saat sedang memilih-milih baju, kami mendengar seseorang sedang bercakap dengan berbahasa Indonesia yang praktis membuat kami mendekat kearahnya. Sayangnya, bukannya disapa balik kami malah dicuekin dan dianggap tidak ada. Kami sempat kecewa lalu meninggalkan wanita tersebut untuk mencari baju kembali.

Kami kemudian turun dan lanjut ke area The Body Shop, saat teman selesai membeli barangnya kami lanjutkan kembali masuk ke area primark karena teman masih kepikiran untuk membeli goodie bag yang kita lihat dilantai atas tadi. Saya hanya menunggu teman dilantai bawah sambil duduk seperti para lelaki-lelaki lain yang sedang menunggu pasangannya berbelanja disana. Bosan duduk, sayapun langsung ke area pernak-pernik make-up serta kacamata serta memilih barang disana sampai teman datang. Karena Amsterdam saat itu sangat terik dan membuat kami memicingkan mata melawan cahayanya, jadi kami berdua sama-sama membeli kacamata. Saat memilih tadi saya bertemu dengan seorang pria yang kebetulan orang Indonesia juga. Berbeda dengan wanita yang kami temui tadi, pria ini cukup bersahabat dengan kami sampai akhirnya kami tahu bahwa ia disana karena menjadi travel agen dan sedang menunggu traveler yang dibawanya untuk berbelanja. Setelah berbicara panjang-lebar dengan pria tersebut, kamipun berkenalan dan nama pria tersebut adalah Gilbert.

Mas Gilbert memberikan kami rekomendasi untuk membeli fried chicken di FEBO, katanya rasa ayamnya enak dan porsinya besar. Kami lalu berpamitan karena hari sudah menjelang siang, saya dan teman juga masih mampir ke Hema. Kami masuk Hema karena teman sangat tergila-gila dengan buah peach baca cerita ini dan temannya menyarankan untuk membeli minuman rasa buah peach tersebut disana (seperti soda/sparkling water). Saya ikut tertarik dan membeli minumannya yang rasa kiwi, minuman tersebut baru saya coba sedikit saat saya di Belgia. Namun karena saya tidak terlalu suka dengan rasanya, jadi minuman tersebut terbuang begitu saja setelah beberapa kali saya icip.

Nah, keluar dari Hema kami langsung berjalan ke arah Febo yang tadi direkomendasikan oleh mas Gilbert. Antrian di Febo lumayan panjang saat itu untuk membeli ayamnya, meskipun ada juga makanan siap saji seperti hotdog dan burger yang bisa kita beli dengan memasukkan beberapa euro di mesinnya tanpa perlu antri. Tapi melihat orang lain yang menikmati ayamnya yang berukuran sangat besar membuat kami tak bisa menghindar untuk membeli ayamnya. Sampai didepan penyaji kami langsung memilih paket ayam dan kentangnya kalau tidak salah, lupa juga berapa euro harganya karena saya tak sempat memfoto menu dan tampilan makanannya. Kami langsung keluar dan mencari tempat untuk duduk dan menikmati ayam tersebut, pilihan kami jatuh di area pinggir kanal di sini.

Pemandangan dari lokasi kami ngemper.
Nah, saat kami makan ditangga depan apartemen tersebut tiba-tiba ada penghuninya yang permisi ke kami untuk masuk kerumahnya. Otomatis kami merasa tidak enak karena harus mengemper didepan apartemennya untuk memakan makanan Febo tadi. Ya bagaimana, Febo tidak menyediakan tempat untuk makan disana, mencari lokasi duduk juga butuh usaha jadi kami tahan saja rasa malu kami. Untungnya juga sang penghuni apartemen tadi mempersilahkan kami untuk makan dengan khitmat disana, jadi ya kami lanjutkan saja. Kamipun juga membeli minuman di dekat sana karena minuman yang kami bawa habis dilanjutkan berjalan ke arah Grote Marktnya.

Disepanjang jalan menuju Grote Markt, ternyata tak hanya kami yang duduk mengemper untuk memakan makanannya, banyak juga turis yang juga begitu. Terlalu banyak turis dan food stall take away menyebabkan kami semua harus mengemper seperti itu karena tidak disediakan tempat untuk duduk. Di Grote Markt kami melihat ada orang-orang yang sedang berdemo juga, tapi kami tidak begitu ngeh dengan apa yang mereka tuntut dan lanjut berkeliling saja disana memutar sampai akhirnya kami naik tram kearah Bloemenmarkt.

Bloemenmarkt terkenal oleh para turis karena merupakan tempat untuk membeli berbagai pernak-pernik untuk dibawa pulang ke negara masing-masing. Ada tempelan kunci, bibit bunga tulip, stroopwafel, dan lain-lainnya. Saya saat itu sengaja membeli stroopwafel untuk saya berikan ke orang tua saya nantinya. Kami mampir ke kiri dan kanan toko untuk melihat-lihat saja, sampai tibalah kami di Munttoren dan berfoto ria di area sana. Kami berjalan lurus terus dan kaget mendapati diri kami kembali ke area Grote Markt yang sudah kami tinggalkan tadi. Kamipun bergegas ke arah halte karena sebentar lagi sudah saatnya kami harus ke Amsterdam Sloterdjik untuk menuju ke Antwerp Belgia. Namun sebelum kembali ke hostel untuk mengambil koper, kami putuskan untuk mampir sebentar ke area Rijksmuseum dan melihat suasana di area sana. 



Di perjalanan ke Halte, tanpa sengaja kami menjumpai satu roomate kami. Karena tidak begitu mengenalnya juga kami hanya menyapanya basa-basi lalu menaiki tram kami ke arah Rijksmuseum. Sampai di Rijksmuseum kami melihat ramainya orang yang sedang berfoto ria di area I AM AMSTERDAM. Karena kami malas untuk ikut berdesak-desakan, kami hanya berjalan-jalan disekelilingnya sambil memotret suasana disana. Kamipun melewati Van Gogh Museum sambil mendengar musik dari orang yang sedang memainkan gitar didepannya. Karena waktu yang sangat mepet, kami yang tertarik untuk masuk kesana terpaksa melewatinya begitu saja dan langsung menuju ke arah halte untuk menaiki tram ke arah hostel.

Sampailah kami dihalte dekat dengan hostel kami, dalam perjalanan dari halte ke arah hostel ini, kami melihat banyak sekali orang-orang yang sedang berkumpul menggelar makanan sambil sunbathing ria dilapangan taman. Ada juga yang sedang barbeque-an karena disana memang disediakan tempat untuk bbq-an. Sampai di hostel, kami langsung mengambil koper kami dari locker dan langsung berjalan cepat ke arah halte serta lanjut ke stasiun. Waktu kami tinggal satu jam dan jarak antara Hostel ke arah halte kami lanjut ke Amsterdam Sloterdjik adalah 30 menit. Namun tram untuk menuju ke stasiun tak kunjung datang dan kami harus menunggu lama hingga membuat saya ketakutan kalau nantinya kami telat dan OuiBus akan meninggalkan kami begitu saja.



Beberapa menit kemudian saya cukup lega saat tram datang, sampai titik stasiun kami turun, teman melihat ada bus disebelah kami pas yang menuju ke Amsterdam Sloterdjik. Di Google Maps, kami disarankan untuk menaiki kereta dari stasiunnya ya bukan dari halte seperti ini. Tapi dengan impulsifnya kami memutuskan untuk menaiki bus tersebut berharap dapat sampai ke arah Amsterdam Sloterdjik secepatnya. Dengan perasaan cemas, saya melihat rute bus tersebut yang ternyata harus memutar kearah utara amsterdam. Saya sangat cemas karena pada Google Maps saya, perkiraan waktu sampai di Amsterdam Sloterdjik hanya bersela 3 menit dari jam keberangkatan bus kami. Tapi teman saya menyuruh saya untuk tenang sambil melihat pemandangan Amsterdam bagian utara dari arah bus kami, "tenang aja Mi," katanya.

Karena rute bus ini tidak dalam rencana kami sama sekali, saya juga kaget karena bus ini ternyata berhenti di Terminal Amsterdam Centrum. Saya tahu kalau itu Amsterdam Centrum setelah melihat bus arah ke Zaanse Scans yang saya pelajari rutenya sebelum sampai di Eropa. Lalu dengan rasa cemas luar biasa, sampailah kami di Amsterdam Sloterdjik dan kami berlari mengitari Stasiun dan terlihatlah Bus lain di bawah Stasiun itu. Kami melihat banyak orang menunggu bus di satu sudut, tapi karena disana hanya ada Flexi Bus dan saya melihat Ouibus di sudut yang lain sayapun menuju ke arah OuiBus tersebut. Tapi setelah sampai dilokasi Ouibus tersebut, ternyata Ouibus tersebut bukanlah Ouibus yang siap untuk dikendarai, melainkan OuiBus yang sedang dalam maintenance. Kami akhirnya diarahkan oleh orang disekitar OuiBus tersebut untuk kearah sudut dimana orang-orang sedang mengantri untuk masuk Flexi Bus. Ealah.

Teman saya sebenarnya sudah mengingatkan saya untuk ke sudut tersebut, tapi karena merasa cemas saya tidak bisa mendengar teriakan teman saya sama sekali. Lalu kami kearah sudut yang benar tersebut dan cukup lega karena OuiBus kami belum juga tiba disana alias ngaret. Hampir saja ketinggalan bus arah Amsterdam ke Antwerp ini kalau saja Bus datang tepat waktu kan. Dan baru kali itu kami bersyukur bus datang terlambat alias ngaret, kalau tidak kami kudu beli tiket baru untuk menuju ke Antwerp sore itu yang sudah pasti harganya akan sangat mahal, Oh No Belgia! Beberapa menit kemudian OuiBus datang dan setelah diperiksa tiket serta passport kami, kami langsung masuk kedalam setelah sebelumnya memasukkan koper kedalam bagasi. Perjalanan ke Antwerp Belgia kemudian dimulai dan itu pertama kalinya saya tidak tidur saat didalam bus karena pemandangan yang terhampar saat langit masih terang sangat berharga untuk disia-siakan.

OuiBus saat itu hanya terisi beberapa kursi, saya dan teman memilih untuk duduk sendiri-sendiri supaya masing-masing dari kami mendapatkan posisi dekat jendela. Lumayan kan bisa melihat pemandangan diluar bus tanpa harus mengganggu teman disebelah kita. Diperjalanan ke arah Antwerp, OuiBus berhenti juga di Utrecht untuk mengangkut penumpang lalu lanjut lagi berjalan melewati Rotterdam dan sampailah kami di Antwerp. Dari Rotterdam ke Antwerp saya sudah mulai terlelap tidur hingga saat masuk ke area Antwerp saya terbangun karena jalanannya yang bergeronjal oleh jalanan yang ber-paving sangat menganggu ketenangan saya di dalam bus. Turun di Antwerp kami langsung disapa oleh dinginnya angin yang berhembus malam itu yang melebihi dingin yang kami rasakan di dua negara sebelumnya.


Tulisan dibuat pada 09-10 September 2020


No comments:

Post a Comment